Hanya sebuah wajah.
Tak kira ku akan kembali berjumpa.
Hanya sebuah waktu.
Dan asa berharap bertemu.
Hijab merah di senyuman indah.
Di sebuah warung bertatap mata.
Semangat doa mengungkapkan tanya.
Langit hitam awal lelap tanpa putus asa.
Hanya sebuah wajah.
Tak kira ku akan kembali berjumpa.
Hanya sebuah waktu.
Dan asa berharap bertemu.
Hijab merah di senyuman indah.
Di sebuah warung bertatap mata.
Semangat doa mengungkapkan tanya.
Langit hitam awal lelap tanpa putus asa.
Melantunkan nada lantang
Dan bukan menantang Tuhan
Hanya sekedar menanyakan
Sebuah keajaiban yang ku rindukan
Tersujud dalam selembar sajadah
Merusuk gelap dalam heningnya senja
Y tuhan... aku merindukannya
Sebuah keajaiban dalam sekelumit masalah
Dinding rapih bermuka ubin
Terhibur diri terhempas angin
Obsesi mimpi saat pagi datang
Adaptasi hari yang lelah dan menantang
Y Allah..
Berikan aku langkah kaki yang tegar.
Berikan aku suara yang lantang.
Berikan dari kebisingan pendengaran.
Ketidakjelasan akan menulis.
Kalut pikiran membayangi mata.
Kejauhan dan kekosongan yang terasa.
Andai sepi
Mungkin akan terasa ramai.
Berbeda dengan keadaan yang sebenarnya.
Alunan sepi menyadari hari. Tanpa atau ada yang menemani. Kehidupan yang terjadi menunjukan harga diri. Dan lontaran pertanyaan basa basi menghantui mimpi.
Realitanya saya penikmat karya.
Penikmat segala kondisi.
Penikmat imajinasi.
Penikmat mimpi.
Sementara pagi pun tiba...
Matahari pun akan senyum dengan segera.
Pejamkan mata sejenak mencoba menjamah malam.
Tidur lelap yang selalu aku inginkan.
Tanpa teman. Tanpa kasih. Tanpa kemunafikan. Tanpa basa basi.
Antrian mungkin menjadi solusi dari kesemerawutan.. tapi kenapa di saat antrian panjang banyak muncul keluhan?
Sadar diri kawan. Ini sebuah kenyataan. Kesabaran butuh pengorbanan. Maukah kalian di anggap orang yang sabar atau orang yang suka bertengkar?